Sabtu, 05 Desember 2009

The Story About The Pongah and The Gingsul

Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina, hadits tersebut sangat benar. Terutama untuk tetap bertahan hidup di jaman sekarang, kita butuh ilmu untuk dapat meraih kesuksesan. Seperti halnya dua sahabat Pongah dan Gingsul yang tengah mencari ilmu di bangku sekolah dasar. Meskipun mereka terbilang anak paling bodoh dan goblok di kelasnya, tetapi mereka tetap tak menyerah untuk terus belajar dan mencari ilmu dengan otak mereka yang bisa dibilang “pas-pasan”.
SD Gudang Ilmu, sebuah sekolah dasar swasta sederhana dengan ruang-ruang kelas yang kusam dan dipenuhi sarang laba-laba di sudut-sudut kelas. Sebuah sekolah kecil yang bernilai besar. Membantu para warga kalangan menengah ke bawah untuk dapat terus menyekolahkan putra-putri mereka dan memberi jalan untuk masa depan mereka. Termasuk memberi sedikit jalan untuk masa depan Pongah dan Gingsul. Bangku kayu yang sudah renta dan keropos masih kuat menyangga mereka dan membantunya untuk meraih cita-cita.
“Sul, dah belajar buat ulangan matematika ntar?”, barisan gigi-gigi yang kehilangan 2 anggotanya tepat di tengah-tengah tampak jelas di dalam mulut Pongah yang mengejutkan sahabatnya, Gingsul. Gingsul yang tengah terkejut memberi jawaban singkat, “Udah”.
“Ntar nyontek ya!”, senyum lebar Pongah semakin membuat gigi ompongnya terlihat jelas. “Emang kamu nggak belajar?”.
“Ya belajar sih, tapi sedikit yang masuk. Lagian percuma belajar karena otakku kan emang bodoh.”
Sebenarnya Pongah dan Gingsul bukanlah anak yang malas belajar, bahkan mereka selalu belajar dengan giat. Akan tetapi, kesabaran seseorang memang ada batasnya. Sekeras apapun mereka belajar, nilaimereka tetap saja berada di bawah hingga membuat Pongah menjadi pesimis dan tidak percaya diri. Berbeda dengan gingsul yang tetap optimis dan percaya bahwa suatu hari usahanya belajar dengan keras akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia, meskipun hasil membanggakan yang dia harapkan tidak berbuah dengan cepat.
Teng…teng….teng…. tek…tek….tek….tek, suara lonceng sekolah berbunyi dengan sangat fals yang diiringi suara tukang nasi goreng yang lewat di depan sekolah, menandakan jam pelajaran telah dimulai. Para murid kelas 5 SD Gudang Ilmu duduk di bangku mereka masing-masing dengan tegangnya. Menunggu kehadiran sesosok makhluk tinggi kurus berwajah seram yang biasa disebut Pak Sadi S, guru matematika. Derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekati pintu kelas menambah suasana tegang pagi itu.
“Selamat pagi anak-anak”, suara yang menggelegar keluar dari mulut Pak Sadi
“Se…se…la…mat....pa….gi…paaaaak!”.
“Sekarang keluarkan kertas, kita akan ulangan hari ini!”. Dengan kecepatan suara, para murid bergegas mengeluarkan secarik kertas dari buku mereka. Pak Sadi juga telah mulai menulis soal di papan tulis tanda ulangan telah dimulai. Ulangan berlangsung dengan sangat tegang hingga tak ada satupun murid yang berani menyontek, termasuk Pongah yang sedari tadi gelisah dan tak bisa menyontek karena mata elang Pak Sadi yang jeli terus mengawasi pergerakan para murid.
Berbeda dengan Gingsul yang tetap mengerjakan soal-soal ulangan dengan tenang. Seharusnya, Pongah juga bisa mengerjakan soal-soal ulangan tersebut karena dia telah belajar giat semalaman. Tapi rasa kurang percaya dirinya ditambah dengan suasana tegang saat itu membuatnya tak bisa mengerjakan soal-soal ulangan dengan baik. Nilai-nilai yang jelek dan ranking 5 besar dari bawah telah membunuh rasa percaya dirinya.
Detik berganti menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, dan hari-hari trus berganti hingga tak terasa seminggu telah berlalu sejak kejadian menegangkan tersebut. “Sul, aku rasanya nggak yakin sama hasil ulangan aku minggu lalu”, Pongah memulai percakapan dengan segala kelesuannya. “Optimis saja lah Pong, lagian kamu juga udah belajar kan? Pasti hasilmu bisa baik.” “Emang sih, tapi kan aku emang bodoh. Kayaknya percuma aku belajar semalaman.”
Teng…tek…teng…tek…teng..tek… sebuah bel yang bersahut-sahutan dengan suara tukang nasi goreng yang lewat mengakhiri percakapan antara Pongah dan Gingsul. Sama seperti biasanya, derap langkah kaki Pak Sadi mengiringi kedatangan pria sangar nan kurus tersebut. Kali ini Pak Sadi membagi hasil ulangan minggu lalu.
“Alhamdulillah dapat nilai 60, lumayan lebih baik dari sebelumnya.”, suara sorak Gingsul tak bisa dibendung lagi yang disusul dengan desahan lemas sahabatnya, Pongah. “Kenapa Pong? Kok lesu?”
“Nih”, Pongah memperlihatkan sebuah kertas ulangan dengan nilai yang ditulis jelas dengan tinta warna merah bertuliskan angka 25. “Padahal aku udah belajar semalaman, tapi kok masih jelek ya?”, keluhan Pongah menyusul setelah nilainya dilihat sahabatnya. “Ya jelas lah, usaha kamu emang udah bagus. Tapi kalau kamu nggak percaya diri, usaha yang kamu lakukan nggak bakal membuahkan hasil dan hanya akan jadi udaha yang sia-sia.”, kalimat yang diucapkan Gingsul nebggugah hati Pongah untuk menjadi percaya diri sekaligus menjadi akhir dari cerita singkat ini.
Dari cerita singkat di tadi, dapat diambil hikmah bahwa untuk dapat meraih sukses, selain usaha yang keras, kita juga harus percaya diri. Percaya bahwa kita bisa meraih kesuksesan tersebut karena jika tidak, semua usaha yang kita lakukan akan menjadi sia-sia. Karenanya yakinlah pada dirimu dan raihlah sukses yang kau inginkan.
Semangat…..!!!

(sebuah cerita untuk melengkapi nilai tugas Agama Islam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar