Senin, 21 Desember 2009

Tentang Iblis-Iblis Kecil

Dia tak hidup tapi hidup di dunia
Tak bisa mati karena memang sudah mati
Sesosok iblis tak bertanduk tak berekor
Tak berbisik tapi menghancurkan
Rusak dari dalam
Pelan tapi pasti

Jiwa demi jiwa telah berlalu
Tanah subur berubah menjadi batu
Tapi sang mati tetap hidup
Tetap berjaya kuasai para hidup
Evolusi terus dijalankan seiring berjalannya waktu

Sang iblis kecil tak bersayap
Akar dari semua pohon masalah
Lelehkan hati butakan indera
Ciptakan iblis baru tak bertaring
Iblis tercerdas yang terbodoh

Dia tak hidup tapi tak mati
Dia mati tapi terus hidup
Ciptakan masalah selesaikan masalah
Ciptakan iblis baru tak berhati
Itulah mereka yang tak pernah lepas
Selalu ada di sekitar kita


Kuharap dengan puisi ini, orang-orang bisa tersadar dan tidak terkendalikan oleh benda kecil ciptaan mereka yang bisa dipakai untuk kehidupan mereka di dunia. Seperti kata temanku "Money=Problem"

MISTERI

Coklat, Hitam, Merah, dan Putih
Dilukiskan di kertas yang berbeda
Menggambarkan sebuah cerita panjang penuh misteri
Misteri cerita vertikal dan horisontal yang terjadi bersamaan

Sebuah sandiwara besar di panggung tak berujung
Telah mencapai klimaks
Puncak dari segala fatamorgana
Mendekati akhir tanpa bahagia

Tapi titik tak kunjung terlihat
Hanya menyisakan tanda tanya
Sebuah cerita yang tak pernah dipertanyakan
Tak ada yang bisa memberi jawaban
Bukan Coklat, bukan Hitam, bukan Merah, bukan pula Putih
Hanya yang tak berwarna yang bisa menjawabnya
Sumber dari segala misteri
Yang masih menjadi misteri

Akankah Sang Misteri mengungkap semua misteri?
Ataukah semua kan tetap menjadi misteri?
Tak satupun tahu dan mau tahu
Karena mereka tak tahu akan misteri itu
Hanya satu yang mereka tahu
Tak ada satupun yang mereka tahu

Bodohkah mereka yang hidup tanpa tahu apapun?
Ataukah dia yang bodoh?
Yang selalu mempertanyakan hidup
Berusaha mengungkap apa yang tak mungkin diungkap
Tak ada yang tahu dan mau tahu
Hanya satu yang kita tahu
Mencari tahu akhir dari misteri ini…..

Selasa, 08 Desember 2009

Persembahan Kepada Sebuah Hutan

Sebuah hutan subur tanpa pepohonan
Panas, gersang, kotor
Hanya tumpukan batu tempat berteduh
Sebuah gua beralaskan batu beratapkan tanah
Hutan yang kaya tapi miskin
Sungguh malang nian engkau

Kawanan cihuahua tinggal di dalamnya
Terikat rantai kekuasaan, tertindas
Hanya merusak kekayaan hutan
Lalu menyalak tak berarti

Para keledai berjubah singa berkuasa
Berebut singgasana semu duniawi
Demi tahta, harta, dan kuasa
Mengumbar kepalsuan semata
Tanpa ada realita

Sungguh malang nian engkau wahai hutanku
Telah kusaksikan tangis air matamu
Menimbulkan tangisan ratusan jiwa
Kurasakan betapa dahsyat amarahmu
Tundukkan ribuan keangkuhan

Akankah tiba waktu
Dimana kulihat senyumanmu
Ataukah ku kan menjadi saksi
Akhir kebangkitanmu
Tak pernah kutahu
Yang kutahu hanya satu
Engkau hanyalah semu

Kehidupan & Solitaire

Hidup bagaikan kerajaan solitaire
Terkumpul bersama dalam kotak sempit
Dan masih terkotak-kotak, terbagi
Dipimpin para raja yang tidak lebih baik dari as
Hanya beraksi sekejap dan kembali ke kotak

Andai hidup benar-benar seperti solitaire
Berbeda, tapi tetap sama
Teracak dan terbaur di tumpukan yang sama
Tanpa perang, tanpa gencatan senjata
Hanya ada permainan, menyenangkan

Hidup benar-benar bagaikan solitaire
Terbagi dari kasta terendah hingga keluarga kerajaan
Bersatu membentuk satu kesatuan
Utuh tak terpecahkan
Tanpa saling membedakan

Andai hidup adalah solitaire
Yang tak mengenal perang
Tanpa memperdebatkan perbedaan
Sempurna, utuh, damai
Tapi hidup bukanlah solitaire
Meskipun banyak persamaan
Tapi hidup bukanlah sekedar permainan

Sabtu, 05 Desember 2009

The Story About The Pongah and The Gingsul

Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina, hadits tersebut sangat benar. Terutama untuk tetap bertahan hidup di jaman sekarang, kita butuh ilmu untuk dapat meraih kesuksesan. Seperti halnya dua sahabat Pongah dan Gingsul yang tengah mencari ilmu di bangku sekolah dasar. Meskipun mereka terbilang anak paling bodoh dan goblok di kelasnya, tetapi mereka tetap tak menyerah untuk terus belajar dan mencari ilmu dengan otak mereka yang bisa dibilang “pas-pasan”.
SD Gudang Ilmu, sebuah sekolah dasar swasta sederhana dengan ruang-ruang kelas yang kusam dan dipenuhi sarang laba-laba di sudut-sudut kelas. Sebuah sekolah kecil yang bernilai besar. Membantu para warga kalangan menengah ke bawah untuk dapat terus menyekolahkan putra-putri mereka dan memberi jalan untuk masa depan mereka. Termasuk memberi sedikit jalan untuk masa depan Pongah dan Gingsul. Bangku kayu yang sudah renta dan keropos masih kuat menyangga mereka dan membantunya untuk meraih cita-cita.
“Sul, dah belajar buat ulangan matematika ntar?”, barisan gigi-gigi yang kehilangan 2 anggotanya tepat di tengah-tengah tampak jelas di dalam mulut Pongah yang mengejutkan sahabatnya, Gingsul. Gingsul yang tengah terkejut memberi jawaban singkat, “Udah”.
“Ntar nyontek ya!”, senyum lebar Pongah semakin membuat gigi ompongnya terlihat jelas. “Emang kamu nggak belajar?”.
“Ya belajar sih, tapi sedikit yang masuk. Lagian percuma belajar karena otakku kan emang bodoh.”
Sebenarnya Pongah dan Gingsul bukanlah anak yang malas belajar, bahkan mereka selalu belajar dengan giat. Akan tetapi, kesabaran seseorang memang ada batasnya. Sekeras apapun mereka belajar, nilaimereka tetap saja berada di bawah hingga membuat Pongah menjadi pesimis dan tidak percaya diri. Berbeda dengan gingsul yang tetap optimis dan percaya bahwa suatu hari usahanya belajar dengan keras akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia, meskipun hasil membanggakan yang dia harapkan tidak berbuah dengan cepat.
Teng…teng….teng…. tek…tek….tek….tek, suara lonceng sekolah berbunyi dengan sangat fals yang diiringi suara tukang nasi goreng yang lewat di depan sekolah, menandakan jam pelajaran telah dimulai. Para murid kelas 5 SD Gudang Ilmu duduk di bangku mereka masing-masing dengan tegangnya. Menunggu kehadiran sesosok makhluk tinggi kurus berwajah seram yang biasa disebut Pak Sadi S, guru matematika. Derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekati pintu kelas menambah suasana tegang pagi itu.
“Selamat pagi anak-anak”, suara yang menggelegar keluar dari mulut Pak Sadi
“Se…se…la…mat....pa….gi…paaaaak!”.
“Sekarang keluarkan kertas, kita akan ulangan hari ini!”. Dengan kecepatan suara, para murid bergegas mengeluarkan secarik kertas dari buku mereka. Pak Sadi juga telah mulai menulis soal di papan tulis tanda ulangan telah dimulai. Ulangan berlangsung dengan sangat tegang hingga tak ada satupun murid yang berani menyontek, termasuk Pongah yang sedari tadi gelisah dan tak bisa menyontek karena mata elang Pak Sadi yang jeli terus mengawasi pergerakan para murid.
Berbeda dengan Gingsul yang tetap mengerjakan soal-soal ulangan dengan tenang. Seharusnya, Pongah juga bisa mengerjakan soal-soal ulangan tersebut karena dia telah belajar giat semalaman. Tapi rasa kurang percaya dirinya ditambah dengan suasana tegang saat itu membuatnya tak bisa mengerjakan soal-soal ulangan dengan baik. Nilai-nilai yang jelek dan ranking 5 besar dari bawah telah membunuh rasa percaya dirinya.
Detik berganti menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, dan hari-hari trus berganti hingga tak terasa seminggu telah berlalu sejak kejadian menegangkan tersebut. “Sul, aku rasanya nggak yakin sama hasil ulangan aku minggu lalu”, Pongah memulai percakapan dengan segala kelesuannya. “Optimis saja lah Pong, lagian kamu juga udah belajar kan? Pasti hasilmu bisa baik.” “Emang sih, tapi kan aku emang bodoh. Kayaknya percuma aku belajar semalaman.”
Teng…tek…teng…tek…teng..tek… sebuah bel yang bersahut-sahutan dengan suara tukang nasi goreng yang lewat mengakhiri percakapan antara Pongah dan Gingsul. Sama seperti biasanya, derap langkah kaki Pak Sadi mengiringi kedatangan pria sangar nan kurus tersebut. Kali ini Pak Sadi membagi hasil ulangan minggu lalu.
“Alhamdulillah dapat nilai 60, lumayan lebih baik dari sebelumnya.”, suara sorak Gingsul tak bisa dibendung lagi yang disusul dengan desahan lemas sahabatnya, Pongah. “Kenapa Pong? Kok lesu?”
“Nih”, Pongah memperlihatkan sebuah kertas ulangan dengan nilai yang ditulis jelas dengan tinta warna merah bertuliskan angka 25. “Padahal aku udah belajar semalaman, tapi kok masih jelek ya?”, keluhan Pongah menyusul setelah nilainya dilihat sahabatnya. “Ya jelas lah, usaha kamu emang udah bagus. Tapi kalau kamu nggak percaya diri, usaha yang kamu lakukan nggak bakal membuahkan hasil dan hanya akan jadi udaha yang sia-sia.”, kalimat yang diucapkan Gingsul nebggugah hati Pongah untuk menjadi percaya diri sekaligus menjadi akhir dari cerita singkat ini.
Dari cerita singkat di tadi, dapat diambil hikmah bahwa untuk dapat meraih sukses, selain usaha yang keras, kita juga harus percaya diri. Percaya bahwa kita bisa meraih kesuksesan tersebut karena jika tidak, semua usaha yang kita lakukan akan menjadi sia-sia. Karenanya yakinlah pada dirimu dan raihlah sukses yang kau inginkan.
Semangat…..!!!

(sebuah cerita untuk melengkapi nilai tugas Agama Islam)

Rabu, 02 Desember 2009

Bhinneka Tunggal Ika, Dimanakah Sekarang?

Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda tapi tetap satu. Sebuah kalimat yang indah dan sangat berarti. Menyatukan bangsa yang terdiri atas karakter yang berbeda-beda. Tapi itu dulu...

Sekarang perbedaan terasa menjadi hal yang memisahkan kita semua. Mencerai-beraikan bangsa. Bukankah seharusnya perbedaan itu menjadi hal yang menyatukan kita? Lihatlah pelangi, memiliki warna yang berbeda-beda dan karakter serta frekuensi masing-masing. Tetapi mereka masih bisa menyatu dan menghasilkan sebuah pelangi yang indah. Setiap warna begitu berarti karena bila 1 saja hilang, tak kan ada warna putih.

Tuhan telah memberikan kita contoh untuk kita bersatu dalam perbedaan. Tapi manusia selalu saja berusaha dengan bodohnya untuk menghilangkan perbedaan. Seharusnya kita tidak berusaha menghilangkannya, tetapi justru melestarikan perbedaan tersebut. Karena perbedaanlah yang telah memberi warna di dunia.

Jika saja manusia bisa menerima perbedaan dengan tangan terbuka, tak kan ada perang, tak kan ada kasus pengeboman, tak kan ada rasa kebencian, dan tak kan ada tangis penderitaan para korban perbedaan. Yang ada hanyalah keharmonisan, rasa persatuan, kekeluargaan, dan rasa aman. Jadi akankah kita tetap berusaha menghilangkan perbedaan? Ataukah kita kan menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk mewarnai dunia dan hidup kita? Itu pilihan kalian, tanyakanlah pada hati nurani.....

Jumat, 27 November 2009

A Poem for The Fucker Jack in Indonesia

Our mother is hurt
When the straight line become a curve
Broke her heart inside
Make a big hole in the wall of law

The heroes become an evil
Use their might as a weapon
Kill all weakness
Right or wrong
All weakness die in their hand

There's no heaven for mother's son
But they have their comfortable hell
For the half-gods, half-devil
The great evil
But in the other side
There's still a very hot hell
For some little baby
The amateur

Where's the real hero?
Who's against some evil for the judge
Not for the money or just popularity
Not only looking for a might
But looking for a justice

Our mother is crying
Because of her children's tears
Tears of the weak
Who's injured by their brother
Their great old brother

Don't cry mom
Stand up babies
Let's stand up together
And fight against all evil heroes
Make a justice and be a hero for our world
A real hero, real jack




*********, 28 November 2009
Written for the FUCKER JACK in Indonesia

By : The Black Joker